Imamah, Studi Komperatif Sunnah-Syi’ah

Imamah, Studi Komperatif Sunnah-Syi’ah
Oleh: Ibnu Jakfari Apakah Imamah Ushûlddîn/Prinsip agama atau Furû’uddîn?

Pendapat Ahlusunnah:

Imamah dalam pandangan madzab Ahlusunnah bukan merupakan Ushuluddin, ia digolongkan furu’uddin dan masalah-masalah fiqih yang harus dipecahkan dengan dalil-dalil naqliah bukan aqliah. Bahkan mereka menganggapnya bukan hal penting yang harus dibicarakan dan di diskusikan.
Demikian dijelaskan oleh tokoh-tokoh teologi Ahlusunnah seperti Imam Ghazali, Al-Amidiy, Al-Taftazani dll.

Al Ghazali berkata, “Ketahuilah, bahwa meneliti masalah Imamah bukanlah hal penting dan bukan permasalahan aqliah, ia adalah masalah fiqhiyah…”.[1]
Al Amidi berkata, “Ketahuilah bahwa persoalan imamah bukanlah termasuk ushuluddin, dan bukan pula perkara yang keharusan di mana seorang mukallaf tidak dibenarkan berpaling darinya dan tidak mengerti tentangnya… .”[2]

At Taftazani berkata, “Imamah bukan termasuk Ushuluddin dan akidah, berbeda dengan Syi’ah. Akan tetapi ia menurut kita (Ahlusunnah) termasuk furuu’ yang terkait dengan tindakan para mukallaf, sebab pengangkatan imamah menurut kita wajib atas umat berdasarkan dalil naqli… .”[3]

Ibnu Ruzbahan mengatakan dalam bantahannya terhadap Allamah al-Hilli ra., “Ketahuilah bahwa Imamah menurut kelompok Al Asy’ariyah bukan termasuk Ushuludiyanaat dan dasar akidah, akan tetapi ia menurut mereka adalah termasuk furuu’ yang berkaitan dengan tindakan kaum mukallaf.”[4]

Dan sepertinya pandangan mereka yang mengatakan bahwa imamah (khilafah) adalah furu’uddin dan bukan ushuluddin adalah tepat dan sesuai dengan pandangan mereka tentang definisi dan fungsi khilafah itu sendiri, sebab seperti sudah kita ketahui bahwa imamah (khilafah) dalam pandangan Ahlusunnah adalah sekedar jabatan kekuasaan (pemerintahan).

Syahid Muthahhari berkata, “Apabila masalah Imamah dalam batasan ini yaitu kekuasaan politis bagi kaum Muslim sepeninggal Nabi saw. maka jujur saja kita kaum Syi’ah menjadikannya dari bagaian dari furu’uddin dan bukan ushuluddin dan kita mengatakannya ia seperti masalah shalat, akan tetapi kita kaum Syi’ah yang menyakini Imamah tidak hanya memahamimya sebatas itu.”[5]

Dan yang perlu mendapat sorotan di sini bahwa kendati imamah dalam pandangan Ahlusunnah bukan termasuk ushuluddin, namun demikian mereka menekankan pentingnya keimanan terhadap keimamahan (kepemimpinan) para Khulafa’ bahkan terhadap keyakinan urutan keutamaan mereka sesuai dengan urutan masa kepemimpinan mereka, dan mereka menjadikannya sebagai bagian yang sangat penting dalam keyakinan Ahlusunnah.
Imam Ahmad bin Hambal (W:241H) berkata menjelaskan akidah Ahlusunnah, “Sebaik-baik umat ini setelah Nabi kita saw. adalah Abu Bakar, dan sebaik-baik setelah Abu Bakar adalah Umar, dan sebaik-baik setekah Umar adalah Utsman, dan sebaik-baik setelah Utsman adalah Ali, semoga Allah meridhai mereka. Mereka adalah para Khulafa’ yang Rasyiduun dan mendapat petunjuk.”[6]

Abu Ja’far Ath Thahawi Al Hanafi (W:321H) berkata, “Dan kami menetapkan Khilafah setelah Nabi saw. untuk Abu Bakar ash Shiddiq -sebagai pengutamaan atas seluruh umat kemudian untuk Umar ra. kemudian untuk Utsman ra. kemudian untuk Ali ra.”[7]
Abu Al Hasan Al Asy’ariy (W:330H) berkata, “Dan mereka mengakui bahwa mereka (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali_ pen.) adalah Khulafa’ Rasyiduun Mahdiyyuun semulia-mulia manusia setelah Nabi saw.”[8]

Pendapat Syi’ah Imamiyah :

Dalam pandangan Syi’ah Imamiyah, Imamah -yang kita telah ketahui definisinya menurut mereka- adalah sebuah prinsip agama (Ushulluddin).
Setelah kita ketahui bersama bahwa Imamah adalah Khilafah ketuhanan yang akan menyempurnakan dan melanggengkan fungsi Nabi -selain penerimaan wahyu-, maka semua fungsi dan tugas Rasul saw.; memberikan petunjuk dan membimbing umat manusia, menuntun mereka kepada kebahagiaan dunia-akhirat, mengatur urusan manusia, menegakkan keadilan, menyingkirkan kezaliman dan kesewenang-wenangan, memelihara syari’at, menerangkan al-Kitab, menghilangkan perselisihan, mensucikan jiwa dan mendidik manusia serta lain sebagainya adalah termasuk juga tugas dan fungsi seorang Imam. Maka alasan yang menetapkan digolongkannya kenabian sebagai Ushuluddin juga alasan digolongkannya imamah sebagai ushuluddin. Dan kalau tidak maka tidak ada alasan memasukkan kenabian sebagai ushuluddin juga.

Oleh kerenanya Imamah dalam pandangan Syi’ah Imamiyah sebagai Ushuluddin dan bukan furu’uddin.
Syaikh al-Mudzaffar berkata, “Dan yang membuktikan bahwa Imamah termasuk ushuluddin adalah bahwa kedudukan Imam seperti kedudukan Nabi dalam penjagaan Syari’at, keharusan mengikutinya, dan kepemimpinannya yang umum tanpa perbedaan. Dan telah sependapat dengan kita (Syi’ah Imamiyah) bahwa ia (imamah) adalah termasuk ushuluddin sekelompok ulama selain kita seperti Qadli Al Baidhawi dalam pembahasan Al Akhbaar (berita\hadis), dan sekelompok pensyarah ucapannya seperti disebutkan oleh Sayyid yang mulia -Rahimahuallah-.”[9]

Dalil-dalil Imamah Sebagai Ushuluddin: 

Ketahuilah bahwa arti ushuliddin adalah dasar-dasar agama, dan sesuatu dikatagorikan sebagai dasar agama karena ia adalah pondasi yang di atasnya agama ditegakkan. Asy Syahadatain adalah termasuk ushuluddin karena alasan di atas, sebab seorang tidak dikatakan Muslim kecuali dengannya, demikian juga dengan Imamah.

Dan yang mendasari keyakinan di atas adalah Al qur’an dan Sunnah Nabi saw.

Dalil Al qur’an 

Ayat al Baalagh:

يا أَيّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ، وَ اللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ.

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti)kamu tidak menyampaikan Risalah-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan)manusia.(QS:5;67).

Ayat di atas -setelah terbukti- turun berkaitan dengan masalah Imamah dan wilayah sepulang Nabi saw. dari haji Wada’ di Ghadir Khum setelah menyampaikan pesan terakhir tentang kepemimpinan Ali as., seperti disebutkan dalam riwayat-riwayat yang sahih yang telah diriwayatkan oleh para ulama Ahlusunnah dan juga Syi’ah, ia menunjukkan bahwa Imamah adalah dasar agama, sebab Imamah sesuai dengan petunjuk ayat di atas adalah sebuah perkara yang apabila Nabi saw. tidak menyampaikannya, maka seakan beliau tidak pernah menyampaikan agama dan Risalah Allah SWT. Dan ini adalah bukti kuat bahwa Imamah adalah bagian yang urgen dalam kehidupan Risalah dan kenabian, maka bagaimana mungkin ia tidak termasuk Ushuluddin?!

Hadis tentang turunnya ayat di atas tentang wilayah dan Imamah Ali in Abi Thalib as. telah diriwayatkan oleh tidak kurang dari dua puluh Ulama besar Ahlusunnah, di antara mereka adalah:

Ibnu Abi Hatim ar-Razi.[10]

Ahmad bin Abdur-Rahman asy-Syirazi[11].

Ahmad bin Musa (Ibnu Murdawaih) [12].

Ahmad bin Muhammad ats-Tsa’labi [13].

Abu Nu’aim al-Ishfahani [14].

Abu al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidi [15].

Mas’ud bin Nashir as-Sijistani [16].

Abdullah bin ‘Ubaidillah al-Hiskani [17].

Ibnu ‘Asakir ad-Dimasyqi[18].

Al-Fakh ar-Razi[19].

Jalaluddin as-Suyuthi[20].

Muhammad bin Thalhah asy-Syafi’i[21].

Ali bin Syihab al-Hamadani [22].

Ibnu Shabbagj al-Maliki [23].

Al-‘Aini[24].

Nidzamuddin an-Nisaburi al-Qummi[25].

Di bawah ini akan kami sebutkan beberapa riwayat tentangnya.

Dalam tafsir Al Durr Al Mantsur disebutkan: Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud: Kami di masa Rasulullah saw. membaca ayat ini:

يا أَيّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ (إن عليا مولى المؤمنين) وَ إنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ، وَ اللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ.

Dengan tambahan kata: إن عليا مولى المؤمنين” ” (Sesungguhnya Ali adalah pemimpin kaum Mu’min) setelah kata:“من ربك “[26].
Dari Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdillah, mereka berkata, “Allah memerintah Muhammad saw. untuk mengangkat Ali sebagai panutan bagi umat manusia dan memberitakan kepada mereka tentang wilayah (kepemimpinan)nya, maka Rasulullah saw. khawatir mereka (para sahabat) berkata (menuduh), ‘Ia (Muhammad) berkolusi dengan anak pamannya’, dan khawatir mereka mengkritik beliau dalam hal ini, maka Allah mewahyukan kepada beliau ayat di atas. Lalu beliau saw. bangkit menyampaikan wilayah Ali pada hari Ghadir Khum.”[27]

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Rasulullah saw. diperintah untuk menyampaikan tentang kepemimpinan Ali, lalu Allah -Azza Wa Jalla- menurunkan ayat:

يا أَيّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَ إنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ، وَ اللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ.

Kemudian pada hari Ghadir Khumm beliau bangkit berpidato, setelah menyampaikan puja-puji kepada Allah beliau bersabda, ‘Bukanakah saya lebih berhak atas kalian lebih dari diri kalian sendiri?!’ Mereka menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah.’

Lalu beliau saw. bersabda, “Barang siapa yang aku adalah walinya maka Ali juga walinya. Ya Allah bimibnglah yang mengikuti Ali, musuhilah yang memusuhinya, cintailah yang mencintainya dan bencilah yang membencinya, muliakan yang memuliakanya dan bantulah yang membantunya.”[28]

Ayat Ikmaal ad Diin:

اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَ رَضِيْتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيْنًا.

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu.(QS:5;3)

Ayat di atas sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat yang sahih menegaskan tentang Imamah dan Wilayah Ali as., dan tidak adanya dasar yang mengatakan sesuatu lain tentang sebab turunnya. Dan ayat ini menegaskan bahwa Imamah adalah penyempurna agama dan pelengkap bagi ni’mat Allah. Jadi bagaimana mungkin sesuatu yang dijadikan penyempurna agama tidak tergolong dasar dan pondasi (ushuul) agama?!
Dan turunnya ayat di atas dalam peristiwa pengangkatan Ali as. telah diriwayatkan oleh banyak kalangan Ulama besar Ahlusunnah, di antaranya:

Ibnu Murdawaih al-Isfahani.

Abu Nu’aim al-Isfahani.

Ibnu al-maghazili.

Al-Muwaffaq bin Ahmad al-Akhthab al-Khawarizmi.

Muhammad bin Ali an-Nathanzi.

Abu hamid mahmud bin Muhammad ash-Shalihani.

Ibrahim bin Muhammad al-Hamawaini.

Dalam riwayat-riwayat itu disebutkan bahwa setelah Nabi saw. memproklamasikan imamah Ali as. di Ghadir Khum, Allah menurunkan ayat di atas, lalu Nabi saw. bersabda:

الله أكْبَرُ عَلىَ إكْمَالِ الدِّيْنِ وَ إتْمَامِ النِّعْمَةِ وَ رِضَا الرَبِّ بِرِسالَتِيْ وَ الوِلاَيَةِ لِعَلِيِّ بنِ أبِيْ طَالِبٍ.

Maha besar Allah atas penyempurnaan agama dan pelengkapan ni’mat dan kerelaan Tuhan terhadap Risalahku serta wilayah (kepemimpinan) Ali[29].
Dan selain dua ayat di atas masih banyak ayat lain yang juga menunjukkan bahwa Imamah adalah termasuk dasar agama.

Dalil Sunnah : 

Dalam hadis sahih ditegaskan bahwa barang siapa mati dalam keadaan tidak mengenal Imam zamannya maka ia mati jahiliyah. Maka kalau Imamah bukan hal penting dan termasuk Ushuluddin mengapakah keharusan mengenal imam dianggap begitu penting sehingga yang tidak mengenal imam digolongkan mati jahiliyyah.

Nabi saw. bersabda :

َمَنْ مَاتَ وَلَمْ يَعْرِفْ ِامَامَ زَماَنِهِ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيّةً

Siapa mati yang sedang ia tidak mengenal imam zamannya maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah[30].

Hadis di atas telah disepakati kesahihannya, baik oleh Ahlusunnah wal Jama’ah maupun Syi’ah.
Syeikh M. Hasan Al Mudzaffar ra. berkata menjelaskan dalil bahwa Imamah termasuk ushuluddin, “Di antaranya adalah riwayat-riwayat yang banyak yang menunjukkan bahwa barang siapa mati tanpa Imam maka ia mati jahiliyah dan lain sebagainya, maka berarti ia termasuk ushuluddin, seperti riwayat Muslim dalam bab Al Amr bi Luzuumi Al Jama’ah, pada kitab Al Imaarah dari Ibnu Umar, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يومَ القِيامَةِ لاَ حُجَّةَ لَهُ, وَ مَن ماتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَات مِيْتَةً جاهِلِيَّةً.

Barang siapa melepas tangan dari keta’atan ia berjumpa dengan Allah pada hari kiamat tanpa memiliki bukti, dan barang siapa mati sedang dilehernya tidak ada ikatan bai’at maka ia mati jahiliyah.

Dan seperti riwayat Muslim juga pada bab yang sama, dan Bukhari dalam bab kedua pada kitab al-Fitan:

مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ , فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيْتَتَةً جَاهلِيِةَّ.ً

Barang siapa tidak menyukai dari Amirnya sesuatu hendaknya ia bersabar atasnya, kerena barang siapa keluar (memberontak) dari penguasa barang sejengkal ia mati jahiliyah.

Dan seperti riwayat Ahmad, ia berkata, “Bersabda Rasulullah saw.:

من مات بِغَيْرِ إمامٍ مَاتَ مِيْتَتَةً جَاهلِيِةَّ.ً

Darang siapa mati tanpa imam ia mati jahiliyah.

Dan lain sebagainya.[31]

________________________________________
[1] Al Mawaqif :395 .
[2] Ghayah al-Maram Fi ‘Ilmi al-kalam :363.
[3] Syarh al-Mawaqif,8\344 .
[4] Ibthaal Nahjil Bathil (lihat: Dala’il ash Shidq,2\8) .
[5]Sayyid Muhsin al Kharrazi, Bidayah Al Ma’arif Al Ilahiyah,2/16 menukil dari Imamat Wa Rahbari: 50-51.
[6] Abhâts Fi al-Milal wa an-Nihal :1\255 menukil dari Kitab as-Sunnah karya Ahmad bin Hambal .
[7] Ibid. Menukil dari Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah :478-488.
[8] Maqalaat al-Islamiyyin :323 .
[9] Dala’il ash-Shidq :2\14 .
[10] Lihat : ad Durr al-Mantsuur :2\298 .
[11] Lihat : al Manaqib dan Bihar al Anwâr :37\155 .
[12] Lihat: ad Durr al Mantsuur :2\198 .
[13] Al Kasyfu wa al Bayaan (Nafahât al Azhâr :8\207-208 ).
[14] Lihat : Ma Nazala Min al-Qur’an Fi Aki as. :86 .
[15] Asbaab an-Nuzûl :135 .
[16] Lihat Nafahât :8\215.
[17] Syawahid at Tanzîl :1\187-188 .
[18] Tarikh Damaskus :2\86 .
[19] Tafsir al-Kabir ;12\49 ,dan ia mengatakan bahwa ini adalah pendapat Ibvnu Abbas ,baraa’ ibn ‘Azib dan Imama Muhammad al-Baqir as.
[20] Tafsir ad-Durr al-mantsur 2\298 .
[21]Mathalib as-Su;ul :44 .
[22] Al-Mawaddah Fi al-Qurbaa (lihat :Yanabi’ al-mawaddah :249).
[23] Al-Fushuul al-Muhimmah :42 .
[24] ‘Umdat al-qaari – Syarah al-Bukhari :18\206 .
[25] Tafsir an-Nisaburi :6\129-130 .
[26] Ad-Durr al-Mantsur :2\298 .Penulis berkata an adanya tambahan ini tidak berarti telah terjadi perubahan (tahrif) pada kitab suci Al-Qur’an sebab ia bukan ayat Al-Qur’an ,ia hanya sebagai tafsiran yang mereka dengan dari Nabi saww. atau yang mereka fahami berdasarkan kondisi sebab nuzul ayat ,dan hal seperti itu banyak ditemukan dalam riwayat-riwayat para shahabat .
[27] Syawahid at-Tanzil :1\187.
[28] Hadis riwatar Abu Sa’id as-Sijistani dalam kitab beliau tentang hadis al-Wilayah, lebih lanjut lihat Nafahat al-Azhaar,8\215 .
[29] Manaqib Ali bin Abi Thalib ( al-Khawarizmi):80 dan Faraid as-Simthain (Al-Hamawaini) :1\74
[30] Hadis di atas dan hadis-hadis mengandung makna serupa seperti yang disebut Syeikh Al Mudzaffar dapat Anda jumpai dalam banyak kitab-kitab mu’tabarah para ulama Ahlusunnah, di antaranya:
Shahih Bukhari, bab al Fitan,5/13.
Shahih Muslim,6/21-22 hadis1849.
Musnad Ahmad,2/83, 3/446 dan 4/96.
Shahih Ibn Hibban,6/49 hadis 4554.
Al Mu’jam Al Kabir; Al Thabarani,10/350 hadis 10687.
Mustadrak; Al Hakim,1/77.
Hilyatul Awliyaa’,3/224.
Jaami’ Al Ushuul; Ibn Al Atsiir Al Jazari,4/7.
Musnad Ath Thayalisi:259.
Al Kuna wa Al Alqaab,2/3.
Sunan Al Baihaqi,8/156 dan 157.
Al Mabshuuth; Al Sarkhasi,1/113.
Syarah Nahj Al Balaghah; Ibn Abi Al Hadid,9/155.
Syarah Muslim; Al Nawawi,12/44.
Talkhis Al Mustadrak; Al Dzahabi,1/77 dan177.
Tafsir Ibn Katsir,1/517.
Syarh Al Maqashid,2/275.
Majma’ al Zawaid,5/218,219,223 dan312.
Kanz Al Ummal,3/200.
Taisiir Al Wushuul,2/39.
dll.
[31] Dalail ash-Shidq :2\12.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s