Siapa di Balik Konflik Lebanon?

Oleh: Dina Y. Sulaeman

*Please honour the copyright, jangan asal copy-paste*

Lebanon bergejolak lagi. Jumat malam (23/11), Presiden Lebanon, Emile Lahoud, telah sampai pada akhir masa jabatannya (dimulai sejak tahun 1998, masa jabatan 6 tahun, lalu atas perintah parlemen, menyusul masa krisis tahun 2004 akibat tewasnya Rafiq Hariri, Lahoud diberi mandat untuk menjabat selama tiga tahun lagi). Namun, inilah untuk pertama kalinya dalam sejaran Lebanon, seorang presiden mengakhiri masa jabatannya ketika Parlemen belum berhasil menetapkan presiden baru. Sistem politik di Lebanon menetapkan bahwa Presiden harus dijabat oleh seorang Kristen (dan dipilih oleh parlemen), perdana menteri  harus dijabat oleh seorang Sunni dan ketua parlemen ada di tangan seorang Syiah.

Parlemen Lebanon telah bersidang lima kali untuk menetapkan presiden baru, namun sidang selalu ditunda, dan terakhir, ditunda lagi hingga tanggal 30 November. Menurut Nabih Berri, penundaan sidang kali ini adalah karena kuorum yang tak terpenuhi.

Sekarang pertanyaannya, siapa yang berkepentingan dengan penundaan pemilihan presiden di Lebanon, dan mengapa ditunda hingga tanggal 30 November?

Harian Kayhan dengan mengutip laporan Koran Al Manar, Lebanon, menulis:

AS telah menugaskan Kelompok 14 Maret (tokoh2nya: Saad Hariri, Fuad Siniora, Samir Geagea dan Walid Janbalat) untuk meningkatkan ketegangan politik demi memicu perang saudara di Lebanon. Dengan pecahnya perang saudara, AS dan Zionis akan dengan mudah merealisasikan program mereka di Lebanon. Al Manar melaporkan, AS, Perancis, dan Zionis telah mendalangi penggalangan dan pelatihan  pasukan semi militer ”Pendukung Kelompok 14 Maret”. Pasukan semi militer ini dilengkapi dgn persenjataan dari AS, Perancis, dan Israel. Senjata-senjata itu masuk ke Lebanon melalui beberapa Kedubes asing di Beirut. Pasukan semi militer itu saat ini tengah menjalani masa pelatihan di berbagai lokasi di Lebanon, di bawah panduan beberapa perwira Barat dan Israel. Mereka juga diperlengkapi dengan fasilitas alat sadap  yang canggih. Al Manar juga melaporkan bahwa beberapa waktu terakhir ini, dua pesawat dari Perancis dan satu pesawat dari Brussel telah mendarat di Beirut dengan membawa berbagai senjata dan perlengkapan canggih untuk pasukan semi militer pendukung kelompok 14 Maret itu.

Dalam rangka meningkatkan ketegangan politik ini pulalah, Kelompok 14 Maret berusaha menunda-nunda pemilihan presiden baru Lebanon. Sebenarnya, pada sidang hari Kamis dan Jumat lalu, parlemen Lebanon hampir bersepakat untuk menggolkan Michel Edde, namun tiba-tiba situasi bergerak ke arah lain. Berbagai media Lebanon memberitakan bahwa AS telah memerintahkan Kelompok 14 Maret agar tidak bersepakat dengan Kelompok 8 Maret (tokoh2nya: Hizbullah, Michel Aoun) dalam masalah kepresidenan ini, sampai selesainya konferensi Annapolis (yang akan digelar 27/11). AS harus berkonsentrasi dulu pada konferensi itu, baru kemudian melakukan intervensi dalam masalah Lebanon.

Inilah ironi yang harus dihadapi oleh bangsa Lebanon. Sejak berdirinya negara ini, Lebanon selalu saja menghadapi berbagai intervensi asing secara terang-terangan. Sepertinya, apapun yang terjadi di negara ini selalu saja menjadi urusan banyak negara lain. Dengan mata telanjang, bisa dilihat betapa para pemimpin AS, Eropa, atau Liga Arab, silih berganti datang ke Lebanon untuk memberikan pengaruh masing-masing kepada para politisi Lebanon dalam upaya pemilihan presiden. Kondisi seperti ini tak akan bisa ditemukan di negara lain.

Emile Lahoud mengantisipasi kemungkinan buruk di negerinya akibat kekosongan kursi presiden (dan otomatis, kekuasaaan eksekutif bertumpu pada satu orang saja, yaitu Perdana Menteri Fuad Siniora) dengan menyerahkan mandat kepada militer Lebanon. Lahoud menyatakan bahwa pemerintahan Siniora sudah tidak legitimate (antara lain dengan mundurnya sebagian besar menteri di kabinetnya dan demo besar2an yang dilakukan rakyat Lebanon untuk menuntut mundur Siniora. Tapi Siniora tetap bertahan dengan dukungan dari AS dan Perancis). Salah satu bukti bahwa Kelompok 14 Maret yang berada di belakang penundaan pemilihan presiden Lebanon: Siniora menolak penyerahan mandat kepada militer ini dan menyatakan bahwa dirinyalah yang berhak menjalankan pemerintahan dengan kekuasaan penuh.

Pemberitaan media Barat umumnya selalu saja menyeret opini bahwa konflik di Lebanon adalah pertikaian Sunni-Syiah. Padahal, kenyataannya, ini adalah pertikaian politik tanpa sekatan mazhab. Lahoud yang Kristen misalnya, berseru, “Tidak ada satu pun kekuatan di dunia yang dapat memaksakan kehendaknya di Lebanon, tidak Amerika dan tidak pula Perancis. Rakyat Lebanon tidak akan menerima negaranya diatur-atur oleh kekuatan asing.”

Inilah konflik Lebanon. Mayoritas ingin menjadi bangsa Lebanon yang independen tanpa intervensi, namun segelintir politisi ingin menjadi penguasa dengan cara mencari dukungan asing. Di saat yang sama, di luar sana banyak serigala yang ingin menguasai Lebanon dengan cara memanfaatkan beberapa politisi yang haus kekuasaan itu.

© Dina Sulaeman

*Please honour the copyright, jangan asal copy-paste*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s